Jumat, 03 Oktober 2014

CONTOH PIDATO KEAGAMAAN



Berikut contoh pidato Keagamaan :

Judul Pidato     : Apakah kita manusia yang beriman kepada Allah SWT?

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum wr. Wb
Yang terhormat Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Selong beserta wakil, yang terhormat karyawan/karyawati, staf tata usaha dan teman-teman seperjuangan.
Alhamdulilah Hirabbi Alamin.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita begitu macam nikmat. Diantaranya nikmat iman, nikmat kesehatan, dan nikmat kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dan bertatap muka di tempat yang penuh mubarokah ini  (tepatnya di Musola Smanda). Allah SWT telah menjadikan Bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang paling baik dari bulan - bulan lainnya dengan menurunkan al-Qur’an dan mewajibkan puasa bagi kaum muslimin sebagai salah satu pondasi Islam. Shalawat serta salam tercurah atas nabi kita, nabi besar Muhammad SAW yang merupakan nabi akhir zaman penuntun umat manusia kepada kehidupan yang baik seperti saat ini. Beliau pula yang telah menyampaikan kepada kita tentang ibadah-ibadah dibulan Ramadhan dan memberikan contoh kepada kita bagaimana sebaiknya menghidupkan bulan-bulan yang penuh berkah ini.
Hari ini saya merasa berbesar hati karena diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pidato bertema : “Apakah kita manusia yang beriman kepada Allah SWT?”
Sesungguhnya Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al-Baqarah [2] : 183)
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas, bahwa Allah menyatakan puasa wajib bagi orang yang beriman. Di akhir ayat, Allah SWT menyatakan hasil yang digapai pasca melaksanakan puasa Ramadhan adalah  seorang yang beriman, yakni taqwa.
Dalam sebuah hadits Rasululloh SAW telah bersabda: Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga. (HR. At-Tabrani).
Hadits ini semakin mudah kita hayati manakala bulan Ramadhan sudah memasuki pertengahan dan akhir menjelang bulan Syawal. Ketika awal bulan, seluruh masjid di penjuru dunia begitu makmur dan penuh sesak dengan jamaah untuk mendirikan sholat Isya dan Tarawih. Begitu juga saat tadarus al-Quran. Bahkan saat sholat Subuh, jamaah pun sangat berbeda dari 11 bulan sebelumnya. Manusia adalah makhluk yang selalu diserang bisikan setan dari berbagai sudut, menjadikan kualitas iman naik-turun. Suatu saat kualitas iman tinggi, saat lain juga menjadi rendah. moment bulan Ramadhan ini adalah wahana untuk meningkatkan kualitas iman melalui ibadah.
Lalu seperti apakah sesungguhnya orang-orang yang beriman tersebut? Telah tercantum dalam surat Al-Anfal ayat 2 4, setidaknya ada 5 ciri utama orang beriman. diantaranya adalah :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al-Anfaal [8] :2-4)
Dari arti ayat di atas, maka ciri utama orang beriman adalah :
Pertama, bila disebut asma Allah, maka hati mereka tergetar. Maksud ayat ini adalah orang beriman yang sempurna imannya. Dan maksud dengan "disebut nama Allah" yakni disebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan-Nya.

Selama bulan Ramadhan, bila terdengar oleh telinga kita, adzan berkumandang, maka hati ini mestinya bergetar dan kaki kita segera melangkah mengambil air wudhu lalu bersegera mendirikan sholat. Namun bila adzan hanya melintas di telinga kanan menuju telinga kiri dan lepas tanpa bekas, maka hakikatnya kita belum beriman. Idealnya, ketika adzan berkumandang, semua aktivitas kita hentikan dan beralih menuju ritual paling sakral yakni berkomunikasi dengan Allah SWT. Selama Ramadhan, kita akan lebih sering mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, juga banyak kajian yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah.
Kedua, istiqomah mendirikan sholat. Dalam Al-Quran Alloh SWT telah memerintahkan kita untuk sholat 5 waktu: Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS. Al-Israa[17]:78]
Orang beriman selalu taat dalam mendirikan sholat lima waktu dan ditambah dengan sholat sunnah lainya. Ketika bulan Ramadhan, orang beriman akan lebih rajin termasuk ketika mendirikan sholat Tarawih. Orang beriman sadar bahwa mendirikan sholat adalah kebutuhan yang harus dipenuhi agar tidak ada yang hilang dalam hidup ini. Dampak dari amalan sholat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Karena dengan selalu mendirikan sholat berarti ia telah mengokohkan tiang agama. Bahkan yang lebih nyata lagi, sholat juga berfungsi sebagai pembeda antara orang muslim dengan kafir.
“Barang siapa tidak sholat berarti ia kafir. Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. (HR. Muslim)
Orang beriman sadar bahwa kelak amal yang pertama akan dihisab di akhirat adalah sholat. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, meskipun selama Ramadhan berpuasa sebulan penuh, kelak di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka. Lebih-lebih dimasukkan ke dalam neraka Saqar.
Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah sholat, maka apabila sholatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika sholatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (HR.Tabrani)
Ketiga, apabila dibacakan “Ayat-Ayat Allah”  akan menjadikan hati  tersentuh. Seperti melihat atau mendengar ayat yang  tidak tertulis di dalam kitab suci Al-Quran mengenai tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di jagat raya ini. Pernahkah kita menyadari, bahwa selama ini kita belum pernah melihat Matahari secara langsung? Kita menganggap bahwa setiap pagi hingga sore saat udara cerah kita bisa melihat sang Surya itu dengan mata kita? Sungguh, kita telah tertipu. Kita selama ini hanyalah melihat sejarah Matahari, karena Matahari yang sebenarnya adalah Matahari yang kita saksikan sekitar 8,3 menit yang lalu. Bintang Al-Nilan yang kita saksikan pada malam hari, sebenarnya adalah sejarah Al-Nilan yang telah dipancarkan pada zaman khalifah  lalu. Dengan melihat kemudian mengkaji dan menghayati ayat-ayat Allah SWT, sungguh iman kita bertambah kualitasnya.
Keempat, bertawakal kepada Allah, kapan dan dimana pun. Orang beriman tidak akan berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Hidupnya selalu dinamis dan proaktif serta optimis dalam kondisi apapun, karena Allah SWT adalah Zat tempat mengembalikan semua persoalan hidup. Dan ciri utama orang yang pandai bertawakkal adalah selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Kelima, menafkahkan atau menginfakkan sebagian harta yang dimiliki. Ciri ini melekat dalam diri seseorang yang beriman dan membawa kerberkahan bagi umat di sekelilingnya. Dengan rajin bersedekah, berarti orang beriman telah menjadi salah satu unsur rohmatan lilalamin sebagaimana fungsi diturunkannya Rasulullah SAW. Semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak, dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.
Dari paparan tersebut apakah kita sudah pantas dikatakan orang yang beriman? insya allah jika kita memang bersungguh-sungguh pada jalan yang di ridhoi Allah SWT. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah agar senantiasa  diberikan rahmat, ampunan serta surga yang dijanjikan-Nya jika kita bersungguh-sungguh menjalankan moment ibadah puasa di Bulan Ramadhan ini.
Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan, Jika ada kesalahan dan kekeliruan dalam penyampaian saya mohon maaf. 

Wabillahhtaufik Walhidayah
Assalamualaikum. Wr. Wb

Penyusun         :  Baiq Leny Ratnanegara (BLRn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar