Berikut contoh pidato Keagamaan :
Judul Pidato : Apakah kita manusia yang beriman kepada
Allah SWT?
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum
wr. Wb
Yang terhormat
Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Selong beserta wakil, yang terhormat karyawan/karyawati,
staf tata usaha dan teman-teman seperjuangan.
Alhamdulilah
Hirabbi Alamin.
Puji syukur kita panjatkan
kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita begitu macam nikmat. Diantaranya nikmat iman, nikmat
kesehatan, dan nikmat
kesempatan sehingga
kita dapat berkumpul dan bertatap muka di tempat yang penuh mubarokah ini (tepatnya di Musola Smanda). Allah SWT telah menjadikan
Bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang
paling
baik dari bulan - bulan lainnya dengan menurunkan
al-Qur’an dan mewajibkan puasa bagi kaum muslimin sebagai salah satu pondasi
Islam. Shalawat serta salam tercurah atas nabi kita, nabi besar Muhammad SAW
yang merupakan nabi akhir zaman penuntun umat manusia kepada kehidupan yang
baik seperti saat ini. Beliau pula yang telah menyampaikan kepada kita
tentang ibadah-ibadah dibulan Ramadhan dan memberikan contoh kepada kita
bagaimana sebaiknya menghidupkan bulan-bulan yang penuh berkah ini.
Hari
ini saya merasa berbesar hati karena diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pidato
bertema : “Apakah kita manusia yang beriman kepada Allah SWT?”
Sesungguhnya
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa” (QS Al-Baqarah [2] : 183)”
Dari ayat
di atas terlihat sangat jelas, bahwa Allah menyatakan puasa wajib bagi orang
yang beriman. Di akhir ayat, Allah SWT menyatakan hasil yang digapai pasca
melaksanakan puasa Ramadhan adalah
seorang yang beriman, yakni taqwa.
Dalam
sebuah hadits Rasululloh SAW telah bersabda: “Betapa
banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan
hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. At-Tabrani).
Hadits
ini semakin mudah kita hayati manakala bulan Ramadhan sudah memasuki pertengahan
dan akhir menjelang bulan Syawal. Ketika awal bulan, seluruh masjid di penjuru
dunia begitu makmur dan penuh sesak dengan jamaah untuk mendirikan sholat Isya
dan Tarawih. Begitu juga saat tadarus al-Qur’an.
Bahkan saat sholat Subuh, jamaah pun sangat berbeda dari 11 bulan sebelumnya.
Manusia adalah makhluk yang selalu diserang bisikan setan dari berbagai sudut,
menjadikan kualitas iman naik-turun. Suatu saat kualitas iman tinggi, saat lain
juga menjadi rendah. moment bulan Ramadhan ini adalah wahana untuk meningkatkan
kualitas iman melalui ibadah.
Lalu
seperti apakah sesungguhnya orang-orang yang beriman tersebut? Telah tercantum
dalam surat Al-Anfal ayat 2 – 4, setidaknya ada 5 ciri utama orang beriman.
diantaranya adalah :
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang
yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.
mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan
serta rezki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al-Anfaal [8] :2-4)
Dari arti
ayat di atas, maka ciri utama orang beriman adalah :
• Pertama,
bila disebut asma ‘Allah’, maka hati mereka tergetar. Maksud ayat ini adalah
orang beriman yang sempurna imannya. Dan maksud dengan "disebut nama
Allah" yakni disebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakan-Nya.
Selama bulan Ramadhan, bila terdengar oleh telinga
kita, adzan berkumandang, maka hati ini mestinya bergetar dan kaki kita segera
melangkah mengambil air wudhu lalu bersegera mendirikan sholat. Namun bila
adzan hanya melintas di telinga kanan menuju telinga kiri dan lepas tanpa
bekas, maka hakikatnya kita belum beriman. Idealnya, ketika adzan berkumandang,
semua aktivitas kita hentikan dan beralih menuju ritual paling sakral yakni
berkomunikasi dengan Allah SWT. Selama Ramadhan, kita akan lebih sering
mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, juga banyak kajian yang di dalamnya dibacakan
ayat-ayat Allah.
•
Kedua, istiqomah mendirikan sholat. Dalam Al-Qur’an
Alloh SWT telah memerintahkan kita untuk sholat 5 waktu: ”Dirikanlah
sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah
pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Israa’[17]:78]
Orang
beriman selalu taat dalam mendirikan sholat lima waktu dan ditambah dengan
sholat sunnah lainya. Ketika bulan Ramadhan, orang beriman akan lebih rajin
termasuk ketika mendirikan sholat Tarawih. Orang beriman sadar bahwa mendirikan
sholat adalah kebutuhan yang harus dipenuhi agar tidak ada yang hilang dalam
hidup ini. Dampak dari amalan sholat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan
munkar. Karena dengan selalu mendirikan sholat berarti ia telah mengokohkan
tiang agama. Bahkan yang lebih nyata lagi, sholat juga berfungsi sebagai
pembeda antara orang muslim dengan kafir.
“Barang
siapa tidak sholat berarti ia kafir. Batas antara seorang muslim dengan
kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. (HR. Muslim)
Orang
beriman sadar bahwa kelak amal yang pertama akan dihisab di akhirat adalah
sholat. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, meskipun selama
Ramadhan berpuasa sebulan penuh, kelak di akhirat akan dimasukkan ke dalam
neraka. Lebih-lebih dimasukkan ke dalam neraka Saqar.
”Amal
yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat
ialah sholat, maka apabila sholatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh
amalnya yang lain, dan jika sholatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah
segala amalan yang lain (HR.Tabrani)
•Ketiga,
apabila dibacakan “Ayat-Ayat Allah” akan
menjadikan hati tersentuh. Seperti
melihat atau mendengar ayat yang tidak
tertulis di dalam kitab suci Al-Quran mengenai tanda-tanda kebesaran Allah yang
tersebar di jagat raya ini. Pernahkah kita menyadari, bahwa selama ini kita
belum pernah melihat Matahari secara langsung? Kita menganggap bahwa setiap
pagi hingga sore saat udara cerah kita bisa melihat sang Surya itu dengan mata
kita? Sungguh,
kita telah tertipu. Kita selama ini hanyalah melihat sejarah Matahari, karena
Matahari yang sebenarnya adalah Matahari yang kita saksikan sekitar 8,3 menit
yang lalu. Bintang Al-Nilan yang kita saksikan pada malam hari, sebenarnya
adalah sejarah Al-Nilan yang telah dipancarkan pada zaman khalifah lalu. Dengan melihat kemudian mengkaji dan
menghayati ayat-ayat Allah SWT, sungguh iman kita bertambah kualitasnya.
•Keempat,
bertawakal kepada Allah, kapan dan dimana pun. Orang beriman tidak akan
berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Hidupnya selalu dinamis dan
proaktif serta optimis dalam kondisi apapun, karena Allah SWT adalah Zat tempat
mengembalikan semua persoalan hidup. Dan ciri utama orang yang pandai
bertawakkal adalah selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
•Kelima,
menafkahkan atau menginfakkan sebagian harta yang dimiliki. Ciri ini melekat dalam
diri seseorang yang beriman dan membawa kerberkahan bagi umat di sekelilingnya.
Dengan rajin bersedekah, berarti orang beriman telah menjadi salah satu unsur
rohmatan lil’alamin sebagaimana fungsi diturunkannya Rasulullah
SAW. Semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak, dan lebih bermanfaat
di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.
Dari
paparan tersebut apakah kita sudah pantas dikatakan orang yang beriman? insya
allah jika kita memang bersungguh-sungguh pada jalan yang di ridhoi Allah SWT. Mari
kita tingkatkan kualitas ibadah agar senantiasa diberikan rahmat, ampunan serta surga yang
dijanjikan-Nya jika kita bersungguh-sungguh menjalankan moment ibadah puasa di
Bulan Ramadhan ini.
Mungkin
hanya ini yang dapat saya sampaikan, Jika ada kesalahan dan kekeliruan dalam
penyampaian saya mohon maaf.
Wabillahhtaufik Walhidayah
Assalamualaikum. Wr. Wb
Penyusun : Baiq Leny
Ratnanegara (BLRn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar